Sepenggal Mengenai Adat Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah

3089086018_5308e5a33e

SIANG itu laki-laki tua dengan tubuh sedang menemui saya di kantor. Dia Sutan Mahmud yang tidak asing lagi sebagai ahli sejarah Minangkabau.

Sutan Mahmud memang tidak tamatan perguruan tinggi jurusan sejarah, tetapi penguasaannya terhadap sejarah Minangkabau sangat menakjubkan.  Dalam usianya yang 82 tahun, beliau masih sangat hafal sejarah nagari tuo Pariangan, Luhak Nan Tuo serta Minangkabau secara keseluruhan.

Bahkan kalau berdiskusi dengannya, kita  kalah karena dia mampu bercerita sampai empat jam tanpa terputus dan cerita itu mengalir deras dari memorinya. Jarang-jarang orang tua yang punya daya ingat seperti itu dan dapat menceritakannya dengan lancar.

Beliau seorang dari sangat sedikit orangtua yang menguasai sejarah Minangkabau dan ilmunya harus diwarisi oleh generasi penerus.
Kami bersejarah menimba ilmu lebih dari tiga jam dan topik utamanya adalah tentang Marapalam Agreement atau Perjanjian Bukik Marapalam yang melahirkan sumpah satie adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Menurut alumnus APDN Bukittinggi pada 1973 yang pernah menjadi camat di Lubuak Begalung Padang dan Sungai Tarab Tanah Datar itu, ABS-SBK ada jauh sebelum Perang Paderi.

Sebagian ahli sejarah, seperti  Syekh Sulaiman Arrasully (1871-1970) yang dikenal juga dengan Inyiak Canduang mengatakan bahwa Perjanjian Bukik Marapalam adalah atas kesepakatan antara kaum adat dan kaum agama pada tahun 1820-an.
Sedangkan Sjafnir Aboe Nain dalam sebuah makalah menyebutkan, ikrar ABS SBK lahir ketika adanya gerakan kembali ke syariat yang digagas oleh Tuanku Nan Tuo sekitar 1720-1830, yang ingin melakukan reformasi dalam beragama.

Kemudian sumber lain lagi mengatakan bahwa ABS SBK telah lahir jauh hari sebelumnya, ketika Syekh Burhanuddin bersama Penghulu 12 Ulakan mengadakan kesepakatan dengan Yang Dipertuan Pagaruyung di Tanah Rajo di Bukit Marapalam.
Peristiwa itu pada 1680 dan dinamakan kesepakatan adat basandi syarak di Minangkabau.  Jadi banyak versi yang mengisahkan tentang sejarah ABS-SBK itu.

Sutan Mahmud mengatakan, ABS-SBK itu lahir pada 1640,  kesepakatan antara Kaum Fiqih dan Kaum Sufi.    Kedua kelompok itu sering bertikai dan berseteru hanya karena masalah khilafiah dan kemudian bersepakat pada perjanjian tersebut. “Sedangkan yang terjadi pada 1820-an itu merupakan yang kedua kali,” kata Sutan Mahmud.
Kemudian karena ABS-SBK, sudah mengakar di masyarakat, maka kolonial Belanda berupaya menyerang Bukit Marapalam beberapa kali pada Apri 1823 yang dipimpin Kolonel Raff.  Tapi serangan itu dapat dipatahkan pasukan dari Lintau Buo dan menimbulkan banyak korban dari pihak Belanda.

Tapi yang terpenting menurutnya, bagaimana upaya kita kembali membangkitkan roh ABS-SBK itu, jelas formatnya dan dapat dilaksanakan oleh masyarakat.

ABS-SBK jangan hanya sekedar bahan retorika dan bahan diskusi saja sehingga disebut dalam berbagai forum.  Mulai dari wali jorong sampai Presiden RI sudah tahu dan sering menyebut-nyebut Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah, tapi apa barangnya kata Sutan Mahmud. Apa konsep dan penjabarannya yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat, jadi jangan hanya jadi sebutan saja.
Sutan Mahmud dikenal di kalangan tokoh adat karena beliau telah menulis beberapa buah buku, seperti Himpunan Tambo Minangkabau (1976), Minangkabau setebal 500 halaman (1980), Koto Piliang dan Bodi Caniago (1985) serta Nagari-Nagari di Minangkabau (1987).

Beliau mengatakan, setelah Marapalam Agreement  pada 1640 itu kehidupan ke-Islam-an jadi semakin semarak di Luhak Nan Tuo dan memberi warna adat Minangkabau.  Bahkan juga mempengaruhi gelar-gelar penghulu menjadi berbau Islam.

Menurut Sutan Mahmud, pada 1980-an pernah dilaksanakan diskusi tentang ABS-SBK di Batusangkar.  Salah satu hasil diskusi menyatakan bahwa ABS-SBK itu terjadi pada tahun 1800-an.  Tapi kemudian rumusan tersebut ditolak Hasan Basri Durin, Gubernur Sumbar yang waktu itu juga Ketua Umum LKAAM Sumbar, karena beliau yakin bahwa ABS SBK terjadi jauh hari sebelum tahun 1800-an, diperkirakan pada 1600-an.

Sutan Mahmud mengusulkan agar kembali dilaksanakan diskusi atau rembuk tentang ABS-SBK.  Diharapkan semua institusi terkait ikut serta mendiskusikannya, yaitu LKAAM, MTKAM, Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota, Departemen Agama, Perguruan Tinggi, perusahaan, swasta, Gebu Minang, perantau dan lain sebagainya.  Alangkah eloknya Rembuk Adat ABS SBK itu dilaksanakan di tempat asalnya, di Tanah Datar.  Hasil rembuk itu juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam aplikasi ABS SBK serta dalam penerapan pendidikan berkarakter.  Mungkinkah !

Sumber : http://hariansinggalang.co.id/sepenggal-sejarah-abs-sbk/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s